Sabtu, 13 Maret 2010
Penanaman Dana Bank
Peranan Bank
Bank selaku pelaksana lalu lintas pembayaran (LLP) berarti bank menjadi pelaksana penyelesaian pembayaran transaksi komersial atau financial dari pembayar ke penerima.
Lalu lintas pembayaran diartikan sebagai penyelesaian transaksi komersial dan atau finansial dari pembayar kepada penerima melalui media bank. LLP ini sangt penting untuk mendorong kemajuan perdagangan dan glonalisasi perekonomian, karena pembayaran transaski aman, praktisdan ekonomis.
Kepercayaan masyarakat
Sebagai lembaga perantara, falsafah yang mendasari kegiatan usaha bank adalah kepercayaan masyarakat.
Ciri-ciri sebagai lembaga kepercayaan masyarakat:
Dalam menerima simpanan dari SSU, bank hanya memberikan pernyataan tertulis yang menjelaskan bahwa bank telah menerima simpanan dalam jumlah dan untuk jangka waktu tertentu.
Dalam menyalurkan dana kepada DSU, bank tidak selalu meminta agunan berupa barang sebagai jaminan atas pemebrian kredit yang diberikan kepada DSU yang memiliki reputasi baik.
Dalam melaksanakan kegiatannya bank lebih banyak menggunakan dana dari masyarakat yang terkumpul dalam banknya dibandingkan dengan modal dari pemilik atau pemegang saham.
Dana Pinjaman Dari Pihak Luar
Pinjaman dari Bank-bank Lain
Pinjaman dari Bank atau Lembaga Keuangan lain di luar negeri
Pinjaman dari Lembaga Keuangan Bukan Bank
Pinjaman dari Bank Sentral (BI)
AKUNTANSI SUMBER DANA
1. GIRO
DEFINISI
Simpanan dari pihak ketiga kepada bank yang penarikannya dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, surat perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan
TRANSAKSI GIRO
Dapat dilakukan dari peristiwa setoran nasabah baik tunai maupun kliring, setoran dari transfer, pemindahbukuan karena kliring atau transfer, penarikan tunai atau kliring penambahan karena jasa giro dan bunga dsb.
2. TABUNGAN
DEFINISI
Simpanan masyarakat yang penarikannya dapat dilakukan oleh si penabung sewaktu-waktu dikehendaki.
~~ TABUNGAN KARTU SMART
DEFINISI
Tabungan yang mempunyai kartu dimana pada kartu tabungan tersebut diberikan suatu processor (chips) untuk menyimpan data transaksi nasabah.
MANFAAT
• Alat pembayaran di toko-toko (Point of Sale)
• Alat untuk memperoleh diskon
• Pengganti uang tunai
DEPOSITO
DEFINISI
Simpanan masyarakat yang penarikannya dapat dilakukan setelah jangka waktu yang telah disetujui berakhir.
TRAVELLER’S CHEQUES
DEFINISI
Warkat berharga atas nama yang diterbitkan oleh suatu bank yang pencairannya dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dan hanya oleh orang yang memiliki dan namanya tercantum diatas TC tersebut. TC merupakan sumber dana yang paling murah atau tidak berbunga.
REKENING TITIPAN – PAYMENT POINT
DEFINISI
Pembayaran dari masyarakat yang ditujukan untuk keuntungan pihak tertentu seperti, rekening listrik PLN, rekening telepon dari Telkom, uang sekolah suatu Universitas, pajak televisi dsb.
contoh akun :
• SETORAN TUNAI
Ny. Diony calon nasabah Bank BRI ingin membuka rekening giro pada Cabang Jakarta dengan melakukan setoran tunai sebagai setoran awal rekening gironya sebesar Rp 100.000.000,00 dan biaya administrasi untuk buku cek sebesar Rp 50.000,00
D: Kas Rp. 100.050.000,00
K:Giro Ny. Diony Rp. 100.000.000,00
K:Persediaan buku cek Rp. 50.000,00
Pentingnya Akuntansi :
Persaingan perbankan dalam memperebutkan pangsa pasar
Agar tetap eksis dan mampu mengembangkan diri :
• dapat bekerja dengan tingkat efisiensi tinggi
• dapat mengembangkan produk/jasa perbankan baru sesuai kebutuhan
• memiliki informasi yang tepat pakai dan tepat waktu
• kemampuan manejemen bank dalam pengambilan keputusan
dikelola dan dimanfaatkan dengan benar
alatnya : AKUNTANSI
@ SEJARAH AKUNTANSI PERBANKAN
Sejarah mencatat asal mula dikenalnya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan tempo dulu di daratan Eropa. Kemudian usaha perbankan ini berkembang ke Asia Barat oleh para pedagang. Perkembangan perbankan di Asia, Afrika dan Amerika]] dibawa oleh bangsa Eropa pada saat melakukan penjajahan ke negara jajahannya baik di Asia, Afrika maupun benua Amerika. Bila ditelusuri, sejarah dikenalnya perbankan dimulai dari jasa penukaran uang. Sehingga dalam sejarah perbankan, arti bank dikenal sebagai meja tempat penukaran uang. Dalam perjalanan sejarah kerajaan tempo dulu mungkin penukaran uangnya dilakukan antar kerajaan yang satu dnegan kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran ini sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing (Money Changer). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan operasional perbankan berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan simpanan. Berikutnya kegiatan perbankan bertambah dengan kegiatan peminjaman uang. Uang yang disimpan oleh masyarakat, oleh perbankan dipinjamkan kembali kepada masyarakatyang membutuhkannya. Jasa-jasa bank lainnya menyusul sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.
LAPORAN KEUANGAN BANK
Tujuan adanya laporan Keuangan adalah
memberikan informasi keuangan yang dapat :
dipercaya mengenai posisi keuangan perusahaan
• dipercaya mengenai hasil usaha perusahaan selama
periode akuntansi tertentu.
• membantu pihak yang berkepentingan untuk menilai atau
meng-interpretasikan kondisi dan potensi perusahan
disesuaikan dengan kebutuhan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan laporan keuangan yang
bersangkutan
Bentuk laporan yang dihasilkan dalam perusahaan termasuk bank terdiri :
1. Laporan Neraca,
2. Laporan perhitungan laba rugi
3. Laporan perubahan posisi keuangan
Bagi bank ada laporan tambahan untuk menyimpan
data yang belum mempengaruhi Neraca, namun
sudah harus di perhitungkan oleh pihak Bank, yaitu:
Laporan Rekening Administrasi
PERSAMAAN AKUNTANSI PERBANKAN :
AKTIVA = PASIVA
HARTA = KEWAJIBAN + MODAL
PROSES AKUNTANSI BANK
Proses akuntansi bank dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Transaksi hari Berikut Laporan > Keuangan Hari Bersangkutan > Transaksi hari Bersangkutan > Pengambilan Keputusan
AKTIVA / ASSET: alokasi atau penggunaan dana
(use of Fund)
• Monetary Assets,
uang tunai, surat berharga, tagihan-tagihan
• Non Monetary Asset
gedung (fixed Asset), inventaris kantor
PASIVA : Sumber dana
•Volatile liability, sewaktu-waktu di tagih
Giro, Tabungan, Deposito Jatuh tempo
•Non Volatile liability,
Deposito belum Jatuh tempo, Modal
Senin, 04 Januari 2010
NORMALISASI
NORMALISASI
Definisi
Normalisasi adalah suatu teknik untuk mengorganisasikan data ke dalam tabel-tabel untuk memenuhi kebutuhan pemakai di dalam suatu ogranisasi.
Tujuan dari Normalisasi
Untuk menghilang kerangkapan data
Untuk mengurangi kompleksitas
Untuk mempermudah pemodifikasian data
Proses Normalisasi
Data diuraikan dalam bentuk table, selanjutnya dianalisis berdasarkan persyaratan tertentu ke beberapa tingkat.
Apabila table yang diuji belum memenuhi persyaratan tertentu, maka table tersebut perlu dipecah menjadi beberapa table yang lebih sederhana sampai memenuhi bentuk yang optimal.
Tahapan Normalisasi
Bentuk Tidak Normal
Menghilangkan perulangan group
Bentuk Normal Pertama (1 NF)
Menghilangkan Ketergantungan sebagian
Bentuk Normal Kedua (2NF)
Menghilangkan Ketergantungan Transitif
Bentuk Normal Ketiga (3NF)
Menghilangkan anomali-anomali hasil dari
ketergantungan fungsional
Bentuk Normal Boyce-Codd (BCNF)
Menghilangkan ketergantungan Multivalue
Bentuk Normal Keempat (4NF)
Menghilangkan anomali-anomali yang tersisa
Bentuk Normal Kelima
Ketergantungan Fungsional
Definisi :
Atribut Y pada relasi R dikatakan tergantung fungsional pada atribut X (R.X R.Y), jika dan hanya jika setiap nilai X pada relasi R mempunyai tepat satu nilai Y pada R.
Misal, terdapat skema database Pemasok-Barang :
Pemasok (No-pem, Na-pem)
Tabel PEMASOK-BARANG
No-pem Na-pem
P01 Baharu
P02 Sinar
P03 Harapan
Ketergantungan fungsional dari tabel PEMASOK-BARANG adalah :
No-pem Na-pem
Ketergantungan Fungsional Penuh
Definisi :
Atribut Y pada relasi R dikatakan tergantung fungsional penuh pada atribut X pada relasi R, jika Y tidak tergantung pada subset dari X (bila X adalah key gabungan)
Contoh :
KIRIM BARANG (No-pem, Na-pem,No-bar, Jumlah)
No-pem Na-pem No-bar Jumlah
P01 Baharu B01 1000
P01 Baharu B02 1500
P01 Baharu B03 2000
P02 Sinar B03 1000
P03 Harapan B02 2000
Ketergantungan fungsional :
No-pem Na-pem
No-bar, No-pem Jumlah (Tergantung penuh thd keynya)
Ketergantungan Transitif :
Definisi :
Atribut Z pada relasi R dikatakan tergantung transitif pada atribut X, jika atribut Y tergantung pada atribut X pada relasi R dan atribut Z tergantung pada atribut Y pada relasi R. ( X Y, Y Z, maka X Z )
Contoh :
Ketergantungan Fungsional :
No-pem Kode-kota
Kode-kota Kota, maka
No-pem Kota
Bentuk Normal Kesatu (1 NF)
Suatu relasi dikatakan sudah memenuhi Bentuk Normal Kesatu bila setiap data bersifat atomik yaitu setiap irisan baris dan kolom hanya mempunyai satu nilai data.
Tabel KIRIM-1 (Unnormal)
Tabel KIRIM-2 (1 NF)
Diagram Ketergantungan Fungsional
Diagram Ketergantungan Fungsional
Bentuk Normal Kedua (2 NF)
Suatu relasi dikatakan sudah memenuhi Bentuk Normal Kedua bila relasi tersebut sudah memenuhi bentuk Normal kesatu, dan atribut yang bukan key sudah tergantung penuh terhadap keynya.
Tabel PEMASOK-1 (2 NF)
Bentuk Normal Ketiga (3 NF)
Suatu relasi dikatakan sudah memenuhi Bentuk Normal ketiga bila relasi tersebut sudah memenuhi bentuk Normal kedua dan atribut yang bukan key tidak tergantung transitif terhadap keynya.
Tabel KIRIM-3 (3 NF)
Tabel PEMASOK-2 (3 NF) Tabel PEMASOK-3 (3 NF)
Normalisasi pada database perkuliahan
Asumsi :
Seorang mahasiswa dapat mengambil beberapa mata kuliah
Satu mata kuliah dapat diambil oleh lebih dari satu mahasiswa
Satu mata kuliah hanya diajarkan oleh satu dosen
Satu dosen dapat mengajar beberapa mata kuliah
Seorang mahasiswa pada mata kuliah tertentu hanya mempunyai satu nilai
Tabel MAHASISWA-1 ( Unnormal )
No-Mhs Nm-Mhs Jurusan Kd-MK Nama-MK Kd-Dosen Nm_Dosen Nilai
2683 Welli MI MI350 Manajemen Basis Data B104 Ati A
MI465 Analisis Prc. Sistem B317 Dita B
5432 Bakri AK MI350 Manajemen Basis Data B104 Ati C
AKN201 Akuntansi Keuangan D310 Lia B
MKT300 Dasar Pemasaran B212 Lola A
Tabel MAHASISWA-2 ( 1NF )
No-Mhs Nm-Mhs Jurusan Kd-MK Nama-MK Kd-Dosen Nm_Dosen Nilai
2683 Welli MI MI350 Manajemen Basis Data B104 Ati A
2683 Welli MI MI465 Analisis Prc. Sistem B317 Dita B
5432 Bakri AK MI350 Manajemen Basis Data B104 Ati C
5432 Bakri AK AKN201 Akuntansi Keuangan D310 Lia B
5432 Bakri AK MKT300 Dasar Pemasaran B212 Lola A
Diagram Ketergantungan Fungsional :
Tabel KULIAH ( 2NF )
Kode-MK Nama-MK Kode-Dosen Nama-Dosen
MI350 Manajemen Basis Data B104 Ati
MI465 Analisis Prc. Sistem B317 Dita
AKN201 Akuntansi Keuangan D310 Lia
MKT300 Dasar Pemasaran B212 Lola
Tabel MAHASISWA-3 ( 3NF )
No-Mhs Nama-Mhs Jurusan
2683 Welli MI
5432 Bakri AK
Tabel Nilai ( 3NF )
No-Mhs Kode MK Nilai
2683 MI350 A
2683 MI465 B
5432 MI350 C
5432 AKN201 B
5432 MKT300 A
Tabel MATAKULIAH ( 3NF )
Kode-MK Nama-MK Kode-Dosen
MI350 Manajemen Basis Data B104
MI465 Analisis Prc. Sistem B317 AKN201 Akuntansi Keuangan D310
MKT300 Dasar Pemasaran B212
Tabel DOSEN ( 3NF )
Kode-Dosen Nama-Dosen
B104 Ati
B317 Dita
D310 Lia
B212 Lola
Senin, 14 Desember 2009
Cerbung - Chapter1 - OB??
My lift my love
“Wei……Tungguin dong!!” teriakku ketika melihat
semua sahabatku berlari ke arah lift
yang terbuka.
“Arrghh..Lo
tuh! Liat noh pintunya dah ketutup lagi kan ,
gara-gara lo tuh!” gerutu Nna alias Fina Putri, cewek yang berambut pirang sambil
asyik menggulung-gulung rambutnya yang lurus.
“Ya,
udah sih kan liftnya juga bakal turun lagi kan ga bakal terbang
kok..Hehe..” sahutku sambil cengar-cengir. Akhirnya dengan suasana yang lumayan
basi kami pun menunggu lift turun dari lantai 5. Satu per satu orang mulai
mengantri di belakang kami, semakin lama semakin ramai. Kulihat satu per satu
orang yang tengah menunggu, kulihat ekspresi mereka ada yang kayanya lagi
buru-buru masuk kelas (‘mungkin udah telat kali ya atau takut diomelin sama
ceweknya?’), ada yang lagi sibuk becanda dengan temannya, ada juga dosen yang
ikut mengantri.
“Wei,
Bocah… Si April ya kaya orang kesambet gitu?”
“Heh,
Cumi…Gue ga kesambet lagi, lagian mana bisa coba gue kesambet orang setannya
aja ada di samping gue..” sahutku kembali tersenyum. Endah yang tadinya
tersenyum langsung memasang muka jutek namun itu tidak berlangsung lama karena
sedetik kemudian dia kembali tersenyum.
“Jahat..”
pekiknya manja.
Endah
adalah salah satu sahabat terbaikku di kampus, orangya tuh mini alias kecil
(‘tapi tetep imut kok..hehehe…biar ga marah!’), kenapa disebut mini karena
bukan cuma ukurannya aja yang mini tapi semuanya mulai dari ukuran sendok makan
kalo pas bawa bekal sampai ke pensil yang dia pake semua dalam ukuran mini,
tapi ada satu hal dari dia yang ga mini yaitu adalah nafsu makannya, gila tuh
anak yah kecil-kecil makannya banyak banget, gue ajah kalah makanya di antara
kita bertujuh itu / The Seven Princess (‘nama kelompok gue’) dia yang bertubuh
paling mini sekaligus paling subur. Sebenarnya aku mempunyai lima sahabat lain yang aku udah anggap lebih
dari sahabat dan tergabung dalam The Seven Princess yaitu yang pertama Usre,
nama aslinya sih Asri Rianti Noer tapi karena some reason dia pengen banget dipanggil usree ( ‘jangan ditanya
kenapa karena jawabannya bisa bikin lo ngantuk sekaligus ngakak’). Kedua, ada
Fina si ratu lebay ( ‘sebenarnya yang dibilang ratu lebay itu gue tapi gue ga
keberatan kok kalo predikat itu gue anugerahin ke Nna, hehehe..tapi pasti ada
yang keberatan sih’). Fina itu tinggi ( ‘paling tinggi sih tepatnya di antara kami bertujuh’) tapi
meskipun badannya besar nyalinya paling gampang nyelos. Aku tahu banget tipe
cowok Fina pasti yang rambutnya berantakan alias gaya harajuku ga jelas gitu deh (‘jadi,
setiap ada cowok yang rambutnya acak-acakan aku pasti ngelirik ke arah dia
terus bilang deh “ Tuh, Nna tipe lo”). Terus pasti dia langsung
celangak-celinguk gitu nyari cowok yang gue tunjuk.
Terus di posisi selanjutnya ada Dewi si ratu
Tua, gimana ga dibilang tua coba orang gaulnya aja sama ibu-ibu, tante-tante
sampe nenek-nenek gitu makanya dia tuh jadi kena sindrom ‘Tua’ tapi sebenarnya
sih kita ga bakal bilang kaya gitu kalo dia berkelakuan lebih ‘normal’ (‘wah,
emangnya selama ini dia ga normal ya?’) dan ga bertingkah seperti ibu-ibu atau
nenek-nenek yang bawaannya pikun dan selalu tenang menghadapi cobaan hidup
(‘apaan coba?’). Kemudian ada Nisa si ratu cacing, pasti penasaran deh kenapa
dia disebut cacing? Karena dia tuh anti panas banget contohnya kalo mau jalan,
terus panas dikit pasti dia langsung mengenakan kostum ala si perampok alias
nutupin seluruh tubuh biar sebisa mungkin ga kena sinar matahari katanya sih mau
mutihin kulit (‘terobsesi karena sang mantan suka sama cewek putih’). Tapi
untuk semester ini dia berniat untuk cuti. Jadi, intinya ga akan ada gangguan
dan disintegrasi dari si cacing. Lalu ada Susri si ratu jutek kalo dia lagi
bete jangan dideketin deh mendingan, daripada kena semprot (‘tanaman kali
disemprot’). Tapi dia itu orangnya keibuan dan bisa jadi tempat curhat yang
nyaman.
Dan di posisi terakhir ada aku, April, si ratu
Ngebor (‘hahahaha…Janganlah!! entar ada yang merasa tersaingi lagi!’)
sebenarnya aku tuh si ratu rame karena kalo ga ada aku pasti suasana jadi
tenang tapi hambar seperti kalo kata si Inul aku itu ibarat kata garam alias
pencair suasana (‘lah kok sedikit ga nyambung ya?’). Pokoknya kami The Seven
Princess itu intinya adalah satu.
Suasananya lagi-lagi basi. Kulirik
lift, ternyata masih di lantai 3. Dan sepersekian menit kemudian pintu lift
terbuka dan disusul mahkluk-mahkluk (‘Setan kali?’ Orang-orang deh..’)
menyembur keluar.
Tringggggg…..Kutatap dua bola mata
yang terlihat sayu dibelakang orang-orang yang hendak keluar. Dan tanpa
kusadari dia juga tengah melirik ke arahku sejurus kemudian dia menghilang dan
seketika itu juga aku langsung mencari Fina.
“Nna..Lihat ga tadi?” kicauku
dengan semangat menggebu-gebu.
“Apaan?” Nna terlihat seperti
orang linglung membuatku malas melanjutkan laporanku. Tanpa menjawab pertanyaan
Nna aku pun langsung berpaling dan menatap Endah.
“April..Yang tadi cakep ya?” seru
Endah sambil mengulum senyumnya.
“Ahhh, Endah..Lo kok ma gue cepet
banget ya nyambungnya. Iya yang pake baju item itu kan ?” sahutku kembali bersemangat, dan tidak
menghiraukan Nna yang sibuk memikirkan apa maksud perkataanku dan Endah.
“Ah, April…Signal gue kan kenceng banget
setiap ngeliat yang bening-bening gitu” katanya tidak bisa nyembunyikan raut
muka bahagianya. Melihat reaksi Endah aku pun kembali tersenyum.
“Iih, ngomongin apaan sih?” tanya
Nna penasaran.
“Itu loh Nna, tadi tuh ada cowok
cakep yang keluar dari lift..” jelas Endah dengan sabar.
“Ehmmm…Si April nih! Gue tanyain
juga malah dicuekin..”
“Yeh bukannya gitu, keburu basi
kalo gue ceritain” balasku dengan tetap tersenyum.
Akhirnya selama dua jam kuliah aku
sibuk menceritakan apa yang aku dan Endah liat tadi di lift pada ketiga
Princess yang lain, alhasil mereka jadi penasaran seperti apa makhluk yang
membuat aku dan Endah seperti orang yang baru ketemu hantu.
* * * * * *
Seperti biasa sambil menanti mata
kuliah selanjutnya aku dan kelima sahabatku yang lain menghabiskan waktu di lobi.
Lobi kampusku dibatasi kaca-kaca yang memisahkan bagian luar dan dalam kampus
sehingga otomatis tembus pandang.
Aku sibuk mencari-cari dimana
makhuk yang tadi aku dan Endah lihat sementara teman-teman yang lain sibuk
tertawa dan bercerita.
Tringgg….Aku melihatnya di luar,
di dekat kolam lumba-lumba yang terletak di seberang lobi, dia sedang sibuk bercanda
dengan teman-temannya yang lain.
“Guys, tuh dia…” seruku setengah
berteriak. Teman-temanku pun sontak melihat ke arahku kemudian bersamaan menengok ke arah yang aku
tunjukkan. Tapi ternyata karena factor ‘U’ mereka tak kunjung melihat dimana
mahkluk itu berada dan dengan setengah keki aku mengangkat jari telunjukku ke
arah dia berada.
“Ituloh di depan lumba-lumba…Masa
ga ngeliat sih?” pekikku penasaran.
“Yang mana sih?” tanya Fina
sedikit sebal.
Sambil menggerakkan kepala Fina
aku pun berdeham sebal “Itu yang pake kemeja item yang lagi duduk di antara
yang pake baju biru dan baju kotak-kotak” .
“Oooo…” seru mereka bersamaan.
“Bulet..” sahutku sebal. (‘Masa
jarak segitu aja ga ngelihat mata mereka emangnya dah parah banget yah?’)
Tapi sejurus kemudian aku pun
kembali tersenyum.
“Aprilia..!!” panggil Endah
tiba-tiba. Aku pun mendongak.
“Tapi kok dia maenin sapu sih,
Pril?” sambung Fina.
“Ih, iya yak?? Autis banget ya?”
sahutku yang mengakibatkan semua mata The Princess langsung tertuju ke arahku.
(‘Apaan coba maksudnya?’)
“Buset dah yang autis bilang orang
lain autis..”celetuk Susri yang tengah tersenyum.
“Yeh, emangnya gue autis apa?”
balasku keki.
“Emang!!” sahut mereka bersamaan.
Kemudian tertawa bersamaan pula (‘Kekompakan
yang mengesalkan!’).
“Pril, dia kayanya ngerasa kaya
Harry Potter deh? Tuh liat aja aksinya!” seru Dewi kemudian.
Kulihat dia tengah sibuk bermain
dengan sapu yang entah darimana asalnya. Sambil tertawa dia pun menyelipkan
sapu tersebut dan bergaya seakan ingin terbang. Melihat kelakuannya kami pun
tertawa. Kemudian dilepaskannya sapu
tersebut sambil berlagak menyapu halaman yang sebenarnya sudah bersih.
“April!! Kok sekarang dia kaya
Office Boy ya?” celetuk Susri.
“OB ??”
balasku seraya menaikkan sebelah alis mataku tanda meragu.
“Iya..Tuh liat tuh dari gaya menyapunya kayanya
dia emang udah professional deh..Liat ajah sendiri” lanjut Susri.
Kulirik kembali dirinya yang ada
di seberang aula sambil masih menggerutu.
“Masa cowok cakep gitu dibilang OB sih?” gerutuku.
Setelah kulihat benar saja, ternyata
dia tengah berpura-pura menyapu seperti telah terbiasa melakukannya doing his job gitu.
“Iya..ya?..Bener juga lo, Sus!!”
“Gimana kalo mulai sekarang kita
panggil dia OB aja?” lanjutku yang disusul
dengan persetujuan dari yang lain.
Jadi, mulai saat itu telah
diresmikan kalau mahkluk itu akan dipanggil dengan sebutan OB
dan dengan status kecengan bersama.
* * * *
April jangan lupa besok masuk pagi jam 8an
and bawa laptop coz kita mau ngerjain tugas anggaran..
Setelah
membaca pesan dari Dewi akupun segera memasukkan laptopku ke dalam tas agar
esok pagi dapat langsung berangkat tanpa perlu berkemas-kemas lagi. Oia, hari
ini Nisa alias si ratu cacing udah mulai masuk dan telah memutuskan untuk
membatalkan cuti yang telah diambil. Sayang sih, karena perkuliahan telah
memasuki pertengahan semester jadi Nisa sudah tertinggal begitu banyak materi
dan pratikum it’s mean mau tidak mau
dia harus berusaha keras menyusul. Diluar dari itu, karena si ratu cacing udah
masuk berarti juga kita sebagai sahabatnya harus membantu dia keluar dari
lobang (‘Eits, kok lobang sih?hehehe..maksudnya keluar dari masalah
ketertinggalan’).
Beberapa
hari ini aku selalu bertemu dengan OB bukan cuma aku ternyata yang merasa
belakangan ini OB betul-betul eksis di kampus
alias selalu ada. Sepertinya setiap hari orang itu selalu ada jadwal sehingga
gampang ditemukan. Dalam satu hari saja aku bisa bertemu dia lebih dari tiga
kali, tapi hal itu tidak membuat aku dan sahabatku alias The Princess bosan
karena OB itu makin dilihat makin manis (‘Ajikkk!! Mungkin dia kemana-mana
selalu bawa gula kali ya?’). Namun yang membuat kami selalu tertawa setiap kali
melihat dia karena tidak satu pun dari kami yang tahu namanya jadi kami selalu
menyebut dia ‘OB ’. Tapi panggilan ini cukup
efisien juga karena orang-orang ga akan tahu kalo yang kita maksud OB itu sebenarnya dia.
“Pril,
udah liat OB blum?” tanya Dewi seraya
membenahi poninya yang terlihat berantakan.
“Belum..”
jawabku sambil mengeluarkan laptop dari tas, “Mank kenapa, Dew?” lanjutku.
“Ga
pa-pa semoga aja ga?”
“Lah?
Kok?” tanyaku dengan nada menuntut.
“Iya..Abis
lo kan kalo udah ngeliat OB
jadi ga konsen. Terus gimana nasibnya tugas kita ntar coba kalo lo udah kaya gitu?”
jelasnya.
“Yeh,
Cumi…Yah, nggalah.. Gue kan
professional kali?!” jawabku sambil tersenyum.
“BTW,
gue laper banget ni lo bawa pesenan gue kan ?”
lanjutku.
“Iya,
bawa, cerewet…” katanya seraya mengangkat tas kecil yang kemudian mengeluarkan
bau yang membuat perut berteriak memintanya untuk segera meluncur. Memang nasi uduk
buatan mama Dewi two top zop berat deh ga ada yang nandingin apalagi kalo
didampingi sama sambel terasi goreng..beuh…ga nahan.
“Yaudah,
mending lo untuk sementara ini
menjauhkannya dari jangkauan gue dulu deh.. Coz you know, kan ?” saranku menunjuk ke arah perut.
“A
lot to do…”lanjutku.
Aku
dan Dewi pun memulai mengerjakan laporan anggaran yang harus dikumpulkan besok.
Tugas yang satu ini benar-benar membuat orang eneg gimana ga coba? Pertama,
kita harus browsing internet mengenai segala sesuatu tentang perusahaan
unilever belum lagi harus dibuat analisis laporan keuangannya dan proyeksinya.
Huh! Benar-benar menguras tenaga.
Usree,
Nisa, dan Susri pun datang bergantian. Dan akhirnya kami sibuk memikirkan
mekanisme penyusunan anggaran perusahaan. Beberapa jam selanjutnya Nna dan
Endah pun datang dan mereka langsung sibuk dengan tugas kelompok mereka. Oia,
ada satu hal yang aku lupa beri tahu aku, Nna dan Endah itu berbeda kelas.
Waktu tingkat satu kami tergabung di kelas yang sama 1 DA 03 tapi semenjak
kelas dua kelas dan ada pemisahan kelas kami berpisah, aku, Susri, Nisa, Dewi
dan Usre satu kelas, 2DA03 sedangkan Fina dan Endah tergabung di kelas 2DA04.
Tapi kami tetep satu kawanan kok intinya.
“Yaudah
ni.. Abis bab 3 apaan lagi?” seruku seraya menggerakkan badanku yang mulai
terasa pegal lantaran berjam-jam duduk dalam posisi yang sama dan tidak
bergerak.
“Apaan
ya? Langsung laporan keuangannya ajah kali ya?” tanya Dewi ke arahku.
“Yeh,
mana gue tahu?! Gue sih terserah aja.. Kan
tugas gue cuma ngetik doang sambil
mengoreksi yang mana yang salah” jawabku dengan masih meluruskan kakiku yang
terasa keram.
“Yaudah,
Dew..Gitu aja!” sahut Nisa yang duduk di sampingnya.
“Okeh!!
Tapi gantian kek yang ngetik jangan gue lagi cape and pegel banget badan gue..”
seruku kemudian. Dan akhirnya aku beranjak dari tempatku untuk bertukar tempat
dengan Susri.
Tringggg….Tiba-tiba
saja pandanganku menangkap kehadiran makhuk yang sedari tadi ditunggu. Tanpa
kusadari aku pun tersenyum sambil terus memperhatikan dirinya. OB ada di Internet Lounge alias E’Lounge, yang merupakan
salah satu fasilitas kampus untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswanya lebih
dekat dengan peradaban baru yang bernama internet. Jadi, di Internet Lounge itu
mahasiswa diberi waktu 20 menit untuk dapat online atau dapat pula untuk
sekedar mempelajari system operasi Linux yang digunakan.
“Eh,
Guys ada OB tuh di E’Lounge..” seruku
tertahan.
“Yang
mana, Pril?” sahut Usre sambil melihat-lihat ke arah E’Longe.
“Ituloh
yang pake kaos item..yang di nomor 17”
“Ooh,
yang itu toh..Gue kenalin yak?”
“Aah,
apaan sih lo? Lo aja sana
yang kenalan duluan.. Baru setelah itu lo kenalin deh dia ke gue…”
Tanpa
banyak basa-basi, Usre pun langsung beranjak ke tempat yang telah aku
tunjukkan. Dan kemudian menggedor kaca pembatas E’Lounge dan memberi isyarat ke
arah OB bahwa dia ingin berbicara sebentar
dengannya. Awalnya OB terlihat bingung namun akhirnya dia pun memberi isyarat
setuju. Kemudian Usre mencari tempat duduk yang kosong di tempat yang tidak
jauh dari kami.
“Nih,
Pril liatin yak?” katanya sambil menunjuk ke arahku.
Tidak
berapa lama kemudian OB pun datang dan sontak
aku pun tidak dapat berbuat apa-apa. Aku menjadi orang yang salah tingkah
sehingga aku memutuskan agar tidak terlihat semakin bodoh aku menggeser posisi
Susri untuk mengetik tugas.
“Napa ni anak?” tanya Reza
yang entah sejak kapan nongkrong di depanku.
“Biasalah,
Za..Salting gitu deh..” sahut Dewi sambil tersenyum.
“Bisa
juga ya lo salting? Kirain.. Emang siapa sih yang bisa buat lo salting sih,
Pril?” tandasnya.
“Tuh
yang lagi ngobrol sama Usre..” tunjuk Susri.
“Jie..April!!”
seru Reza kemudian. Namun tidak seperti biasanya aku hanya tersenyum dan sambil
melanjutkan ketikkanku tanpa banyak kata.
“Wah,
Vril! Itu ya yang namanya OB ? Ah, Nisa udah
ketinggalan banyak nih tentang informasi kampus..” sahut Nisa sambil mengenakan
kacamatanya dan melirik ke arah Usre dan OB
yang sedang berbicara.
“Vrill!!
Kok Usre berani banget ya emang Usre udah kenal sama OB
ya?” lanjutnya.
“Duh,
Nisa!! Usre tuh baru mau kenalan..Udah, ah Nisa diem deh! Kita mau lanjutin
tugasnya dulu ntar ga selesai lagi” sambung Susri terlihat sebal.
Beberapa
menit kemudian Usre pun kembali sambil senyum-senyum.
“Sayang
loh Pril lo ga ikutan, orangnya ramah loh..” katanya kemudian.
“Iya?
Namanya siapa, Re? Terus lo ngomongin apa aja emangnya?” sahutku penasaran dan
tanpa sadar aku mulai meninggalkan laptopku dan bergeser ke arah Usre.
“Namanya
Choky..Anak 2DC02..” jawabnya dengan nada menggoda.
“Ehmmm..Choky..”
ulangku kemudian.
“Eh!!
Pril selesain dulu napa tugas lo!!” tegor Dewi yang terlihat sewot.
“Ntar
kalo udah selesai baru lo omongin lagi dah..”lanjutnya.
Akhirnya
aku pun memutuskan untuk kembali meneruskan kerjaanku yang tadi terlupakan dan
harus sedikit bersabar untuk mendengar apa yang tadi Usre dan OB
bicarakan.
Apa kelanjutan selanjutnya....
Nantikan Chapter 2...My Lift My Love...
Minggu, 29 November 2009
Cerpen
TAK TERGANTIKAN
Malam yang begitu menyesakkan dada, indah, namun hanya kehampaan yang ada, tanpa bulan dan bintang. Kuambil secangkir kopi yang sedari tadi menyendiri di meja samping. Pekatnya kopi tak sepekat pikiranku yang sedang kalut. Sudah beberapa hari ini, aku tidak bisa memejamkan mata entah apa yang tengah mengganggu pikiranku membuatku sulit tidur dan yang lebih aneh lagi, aku yang tidak terbiasa untuk duduk di teras pada malam hari kini menjadi sebuah ketergantungan. Bayangkan saja, aku dapat duduk di teras hingga pukul satu pagi. Mama yang biasanya selalu bawel dengan segala aktivitasku malahan sama sekali tidak berkomentar. Sementara itu, Papa sudah seminggu ini tidak pulang. Mungkin ini semua dampak dari masalah keluarga yang sedang kami alami yang membuat semua orang di rumah merasa aneh dan canggung satu sama lain, jangankan untuk saling bercerita seperti dulu, sekadar bertegur sapa pun jarang.
Kuseruput kembali segelas kopi dalam genggamanku, sambil tak henti memikirkan penyebab dari segala prahara rumah tangga Papa dan Mamaku. Sebenarnya, aku bukanlah sosok yang begitu peduli dengan urusan orangtuaku namun keadaan yang kepalang tidak mengenakkan memaksaku untuk turut campur dalam urusan ini.
“Din! Kenapa kamu masih di luar, Sayang?” suara yang terdengar akrab menegurku dari arah pagar. Suara yang sudah lumayan lama tidak kudengar, suara orang yang selalu memanjakanku , suara Papa.
“Pa…pa??” balasku dengan nada ragu-ragu.
“Iya, Sayang…..”
Aku langsung berlari menyambut Papa yang sedang berdiri di depan pagar. Tanpa rasa ragu sedikitpun kudekati Papa, aku sudah tak sabar untuk bercerita banyak pada Papa dan melaporkan padanya keadaan Mama yang kacau tanpanya.
“Papa? Papa kemana aja aku kangen….” kataku seraya mendekatkan diri ke arah Papa, sosok yang selama ini selalu menjaga dan melindungiku.
“Papa ga kemana-mana, Papa selalu ada didekat kamu kok. Mungkin kamu yang tidak sadar,.” sahut Papa seraya tersenyum.
“Apanya yang didekatku? Sedangkan aku saja sudah seminggu ini ngga ngeliat Papa. Sebenarnya, Papa kemana sih? Aku tanya Mama, dia malah diem aja. Aku bingung deh, kenapa semuanya jadi aneh? Aku ngga tahu apa yang salah, aku merasa benar-benar bingung, Pa. Kita, kan cuma bertiga kalau seperti ini keadaannya aku merasa kesepian, Pa. Belum lagi belakangan ini Mama seperti menghindar dari aku dan akibatnya kami sekarang sudah jarang ngomong, Pa. Papa bisa bayangin, kan? Sebenarnya, ada apa sih, Pa?” ceritaku pada Papa yang sekarang sedang duduk di sampingku.
Seperti biasa Papa hanya tersenyum setiap kali melihat aku melaporkan situasi terbaru padanya, senyum yang bisa menenangkan setiap orang yang melihatnya seperti berkata “semuanya akan baik-baik saja karena aku sudah di sini”. Senyum yang selama seminggu ini aku rindukan.
“Pa? Papa?! Kok malah senyum aja sih?”
“Andini, Sayang. Papa tahu situasi sekarang pasti sangat tidak enak buat kamu, Papa tahu kamu juga merasa sangat kesepian. Tapi, Sayang…Kamu harus tahu satu hal mungkin situasinya akan semakin menyulitkan nanti namun kamu harus tetap tegar dan percaya semuanya akan baik-baik saja,” jawab Papa sambil membelai rambutku.
Sejujurnya, aku tak bisa lagi membayangkan hal yang lebih buruk lagi dari ini. Mendengar kata-kata Papa ada secercah kedamaian yang menyusup ke relung hatiku namun secara bersamaan ketakutan yang besar menguasai pikiranku. Tanpa kusadari tetesan air keluar dari mataku, kupandangi Papa dengan perasaan sedih yang mendalam. Tangan Papa yang dingin mendarat ke pipiku untuk mengusap airmata yang menetes. Tak berapa lama kemudian aku pun sudah terlelap, melayang jauh ke alam mimpi, menjauhkanku dari Papa dan dari segala masalah yang membentang untuk sejenak melupakannya.
* * *
“Din, Dini!!” suara itu dengan segera mengusir bayangan yang dari tadi tengah kurajut dan menghancurkan semua perasaan yang terlibat didalamnya. Dengan segera kuhapus airmata yang tak kutahu sejak kapan mulai menggenangi pelupuk mataku.
“Din, dari tadi gue liatin lo, kok selalu ngelamun sih? Yah, meskipun bukan hari ini aja tapi hari ini lo paling sering ngelamun. Apa hari ini Hari Ngelamun Sedunia?” lanjut Artika, sahabat terbaikku.
Mendengar kelakarnya mau tidak mau aku pun tersenyum, dia memang orang yang bisa membuatku terhibur di tengah masalah yang menghimpitku, Artika, adalah sosok sahabat yang sejati.
“Bukannya hari ini seharusnya lo seneng? Eza yang selama ini lo impi-impiin jadi pacar lo, pangeran berkuda putih yang akan membebaskan putrinya dari siksaan penyihir yang jahat, tadi pagi baru saja mengumandangkan cintanya kepada putri Andini Prasetya,” ceplosnya dengan semangat yang berapi-api.
“HALLOO….APA ADA ORANG? Ya, ampun…Apa yang di depan gue ini putri yang udah dikutuk jadi batu kali, ya? Gue ngomong dianggurin. Halo?? Andini Prasetya? “
“Eh, iya…iya…gue seneng kok seneng banget malah,“ jawabku singkat namun masih dengan ekspresi datar.
“Seneng?! Ekspresi kaya gini lo bilang seneng?” balasnya sambil menghadapkan wajahku ke cermin kecil yang menjadi pasangan jiwanya, karena selalu menemaninya kemanapun dia pergi.
“Sebenarnya ada masalah apa sih, Din? Lo ngga mau cerita sama gue? Beberapa hari ini lo ngga nyadar apa? Gue juga ikut tersiksa dengan keadaan sobat gue yang sangat amat aneh kaya sekarang ini. Selalu ngelamun, pandangan kosong, bahkan sekarang ini lo jarang banget ngomong. Lo mau nyimpen semua ini sendiri? Ga pa-pa sih, tapi sampai kapan?” nada yang tadinya mengandung semangat juang empat lima seketika berubah seperti seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anaknya.
Diam, bagiku adalah jawaban terbaik sekarang ini, aku tak mau menyeret Artika ke dalam masalahku. Aku tak mau dia merasa iba dan kasihan padaku apalagi merasa sedih. Namun mungkin bagi Artika ini hal yang paling mengecewakan, ketika seorang sahabat menutup diri dari dirinya dan sibuk memikirkan masalahnya sendiri dan seolah tidak menganggapnya ada.
Setelah beberapa waktu, Artika pun menyerah dan beranjak dari sampingku hendak meninggalkanku sendiri dan memberikan peluang bagi gelombang permasalahan kembali bertahta di kepalaku.
“Tik…” kuraih tangan Artika yang ingin pergi.
“Maafin, gue selama ini gue ngga mau cerita sama lo tentang masalah gue bukan karena gue ngga nganggep lo sebagai sahabat gue tapi gue takut lo bakalan merasa sedih sama kaya gue dan malahan iba sama gue…..”
Artika kembali duduk di sampingku dengan wajah ingin tahu namun menenangkan. Kupandangi wajahnya dengan sisa keberanian yang kupunya, kuceritakan semua yang terjadi padaku, Mama, dan kedatangan Papa tadi malam.
“Terus? Setelah lo tanya pembantu lo, mereka bilang Bokap lo ga nginep, gitu? Bahkan ga ada yang tahu kalo bokap lo malem-malem langsung pergi?” selidik Tika.
Kuanggukan kepalaku sebagai tanda setuju. Sungguh, aku tak kuat lagi kalau harus mengeluarkan semuanya sekali lagi.
“Segitu parahnya, ya? Sampai Bokap lo ga mau orang rumah lo pada tahu terutama Nyokap lo?” lanjutnya seraya menepuk-nepuk bahuku.
“Sabar, ya…Tapi kalo menurut gue lo harus ngomong sama Nyokap lo biar masalahnya ngga berlarut-larut dan situasinya jadi bener-bener ngga enak. Lo harus yakinin dia kalo lo bukan lagi anak kecil yang ngga berhak tahu apa-apa. Biar bagaimanapun ini telah menjadi masalah lo juga, karena lo juga bagian dari keluarga Nyokap dan Bokap lo,” tandasnya dengan nada menasihati. Dan sekali lagi kujawab dengan sebuah anggukan.
* * *
Setibanya di rumah, kuletakkan tas dan segera berganti baju. Niatku sudah bulat untuk melaksanakan nasihat dari Artika, aku memang sudah cukup dewasa untuk diperlakukan seperti anak kecil.
Kusantap makan siang sambil menonton televisi, suapan demi suapan berhasil meluncur ke perutku yang memang sedang kosong. Tak tahu kenapa hari ini acara televisi sangat membosankan lagi-lagi acara infotainment yang menyajikan berita para artis dengan sejuta sensasi, kutukar satu per satu channel untuk melihat acara yang mungkin lebih menarik dan pilihanku adalah acara berita yang dahulu sangat disukai Papa sebelum masalah merundung keluarga kami.
“Berita selanjutnya, ditemukan sesosok mayat di daerah sekitar kali Ciliwung. Diduga pria malang ini adalah korban dari perampokan karena ditemukan dalam keadaan luka-luka di sekitar tubuhnya yang diperkirakan korban mengadakan perlawanan ketika kejadian,” sambut si pembawa acara. Layar televisiku langsung dipenuhi oleh gambar pria malang tersebut yang kabarnya selama seminggu lebih terbawa air kali Ciliwung.
Kuperhatikan sosok mayat yang telah membusuk dan membekak karena air. Kemeja lengan pendek berwarna biru berselang garis putih, celana hitam panjang dan ikat pinggang yang sudah lusuh masih mengikat kuat di celananya. Entah mengapa, aku semakin penasaran dengan sosok tersebut mungkinkan itu…..PAPA???
Benar, tampilan Papa malam itu sama seperti yang dikenakan mayat itu dan yang lebih meyakinkanku kalau sosok itu adalah Papa karena ada tato AA di pergelangan tangannya yang mengisyaratkan Andira Arjuna nama Mama dan Papa.
“Sekarang mayat tersebut telah dibawa ke RSCM guna penyelidikan lebih lanjut.”
Tanpa peduli makanan yang ada di hadapanku, aku langsung berlari ke kamar kusambar tas dan dompetku, buru-buru berlari keluar, lari dan terus berlari yang kutahu sekarang aku harus segera ke RSCM, aku harus melihat Papa, aku….
TIN…TIN…TIN…TIN….suara motor yang dari tadi meraung di belakang tak kupedulikan air mata yang semakin deras mulai mengaburkan pandanganku.
“Din!! Dini..” teriakan dari pengendara motor dibelakang memaksaku untuk menoleh.
“Din, ada apa? Kamu mau kemana sini aku anter?” lanjut si pengendara motor yang lantas membuka penutup helmnya, Eza. Ternyata motor yang dari tadi sibuk mengklaksoniku adalah Eza, yang kini telah menjadi pacarku bukan lagi cowo yang selama ini hanya dapat kukagumi dari jauh dan menjadi teman di setiap mimpiku.
“Aku, aku mau ke RSCM,” jawabku tergesa-gesa.
“Ya, udah naik…” katanya seraya menyodorkan helm.
Semuanya berjalan begitu lambat, aku ingin segera bertemu dengan sosok yang membuatku begitu risau, sosok yang selama ini mengerti aku, sosok yang menjadi teman sejati, sosok yang begitu memanjakanku…PAPA. Kupererat pelukanku pada Eza kuharap dia tidak keberatan karena sekarang aku sangat butuh sandaran. Sejurus kemudian aku dan Eza telah sampai di RSCM, kutinggalkan Eza yang sedang memarkirkan motornya, kuberlari sekuat tenaga menyusuri lorong RSCM yang kupikirkan hanya satu hal yaitu aku harus menemukan Papa.
“Mba..Korban perampokan yang baru saja di bawa kesini dimana, Mba?” tanyaku pada seorang suster yang duduk di belakang kursi resepsionis.
“Oh, di kamar mayat. Dari sini lurus aja, mentok belok kiri.”
Kuucapkan terima kasih seraya berlari, tak berapa lama kemudian aku sudah sampai di sana, kamar mayat, dengan langkah gontai kutelusuri jalan menuju ruangan itu. Masih seperti mimpi bagiku yang kuharap bila ini mimpi segera bangunkan aku. Airmataku mengalir semakin deras, aku tak ingin percaya bahwa di dalam sana ada orang yang sangat berarti bagiku, orang yang begitu mengerti aku, orang yang selama ini selalu ada bagiku, orang yang selalu membelaku manakala Mama menghukumku, orang yang menjadi sandaranku selama ini...PAPA, membujur kaku tak bernyawa. Saat ini aku sudah tak sanggup lagi melangkah serasa ada satu ton batu yang diikatkan ke kakiku namun tiba-tiba ada yang menggandeng tanganku dan seperti menguatkanku, mengisi kembali tenaga yang terkuras, kutengok dengan tenaga yang masih tersisa, Eza sudah disampingku sambil tersenyum dan mempererat genggaman tangannya. Kubuka pintu kamar yang tidak dikunci itu dengan tangan yang bebas dan perlahan terbuka. Yang pertama kali kulihat adalah Mama yang sedang berlari keluar sambil menangis, ya… Mama menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang kehilangan barang kesayangannya memaksaku mendekatinya dan memeluknya. Kami berdua pun menangis bersama karena rasanya ada sesuatu yang ingin keluar dan tak lagi dapat kami bendung. Sekarang kami benar-benar berdua, tak ada lagi sosok Papa. Kuharus dapat menerima semuanya, mungkin ini yang Papa bilang keadaan yang semakin menyulitkan namun aku juga harus tegar dan kuat seperti pesannya.
* * *
Pa, aku akan kuat, Pa…Seperti yang Papa bilang. Papa juga akan terus ada didekat aku, kan? Ya kan, Pa? Papa...Aku ngga akan bisa melupakan Papa walaupun aku tahu kenapa Mama dan Papa ribut, walaupun Papa sudah tidak setia pada Mama. Tapi aku akan setia, Pa. Aku akan setia menjaga Mama dan aku akan selalu sayang sama Papa sampai kapan pun karena bagiku Papa tak tergantikan.
Malam yang begitu menyesakkan dada, indah, namun hanya kehampaan yang ada, tanpa bulan dan bintang. Kuambil secangkir kopi yang sedari tadi menyendiri di meja samping. Pekatnya kopi tak sepekat pikiranku yang sedang kalut. Sudah beberapa hari ini, aku tidak bisa memejamkan mata entah apa yang tengah mengganggu pikiranku membuatku sulit tidur dan yang lebih aneh lagi, aku yang tidak terbiasa untuk duduk di teras pada malam hari kini menjadi sebuah ketergantungan. Bayangkan saja, aku dapat duduk di teras hingga pukul satu pagi. Mama yang biasanya selalu bawel dengan segala aktivitasku malahan sama sekali tidak berkomentar. Sementara itu, Papa sudah seminggu ini tidak pulang. Mungkin ini semua dampak dari masalah keluarga yang sedang kami alami yang membuat semua orang di rumah merasa aneh dan canggung satu sama lain, jangankan untuk saling bercerita seperti dulu, sekadar bertegur sapa pun jarang.
Kuseruput kembali segelas kopi dalam genggamanku, sambil tak henti memikirkan penyebab dari segala prahara rumah tangga Papa dan Mamaku. Sebenarnya, aku bukanlah sosok yang begitu peduli dengan urusan orangtuaku namun keadaan yang kepalang tidak mengenakkan memaksaku untuk turut campur dalam urusan ini.
“Din! Kenapa kamu masih di luar, Sayang?” suara yang terdengar akrab menegurku dari arah pagar. Suara yang sudah lumayan lama tidak kudengar, suara orang yang selalu memanjakanku , suara Papa.
“Pa…pa??” balasku dengan nada ragu-ragu.
“Iya, Sayang…..”
Aku langsung berlari menyambut Papa yang sedang berdiri di depan pagar. Tanpa rasa ragu sedikitpun kudekati Papa, aku sudah tak sabar untuk bercerita banyak pada Papa dan melaporkan padanya keadaan Mama yang kacau tanpanya.
“Papa? Papa kemana aja aku kangen….” kataku seraya mendekatkan diri ke arah Papa, sosok yang selama ini selalu menjaga dan melindungiku.
“Papa ga kemana-mana, Papa selalu ada didekat kamu kok. Mungkin kamu yang tidak sadar,.” sahut Papa seraya tersenyum.
“Apanya yang didekatku? Sedangkan aku saja sudah seminggu ini ngga ngeliat Papa. Sebenarnya, Papa kemana sih? Aku tanya Mama, dia malah diem aja. Aku bingung deh, kenapa semuanya jadi aneh? Aku ngga tahu apa yang salah, aku merasa benar-benar bingung, Pa. Kita, kan cuma bertiga kalau seperti ini keadaannya aku merasa kesepian, Pa. Belum lagi belakangan ini Mama seperti menghindar dari aku dan akibatnya kami sekarang sudah jarang ngomong, Pa. Papa bisa bayangin, kan? Sebenarnya, ada apa sih, Pa?” ceritaku pada Papa yang sekarang sedang duduk di sampingku.
Seperti biasa Papa hanya tersenyum setiap kali melihat aku melaporkan situasi terbaru padanya, senyum yang bisa menenangkan setiap orang yang melihatnya seperti berkata “semuanya akan baik-baik saja karena aku sudah di sini”. Senyum yang selama seminggu ini aku rindukan.
“Pa? Papa?! Kok malah senyum aja sih?”
“Andini, Sayang. Papa tahu situasi sekarang pasti sangat tidak enak buat kamu, Papa tahu kamu juga merasa sangat kesepian. Tapi, Sayang…Kamu harus tahu satu hal mungkin situasinya akan semakin menyulitkan nanti namun kamu harus tetap tegar dan percaya semuanya akan baik-baik saja,” jawab Papa sambil membelai rambutku.
Sejujurnya, aku tak bisa lagi membayangkan hal yang lebih buruk lagi dari ini. Mendengar kata-kata Papa ada secercah kedamaian yang menyusup ke relung hatiku namun secara bersamaan ketakutan yang besar menguasai pikiranku. Tanpa kusadari tetesan air keluar dari mataku, kupandangi Papa dengan perasaan sedih yang mendalam. Tangan Papa yang dingin mendarat ke pipiku untuk mengusap airmata yang menetes. Tak berapa lama kemudian aku pun sudah terlelap, melayang jauh ke alam mimpi, menjauhkanku dari Papa dan dari segala masalah yang membentang untuk sejenak melupakannya.
* * *
“Din, Dini!!” suara itu dengan segera mengusir bayangan yang dari tadi tengah kurajut dan menghancurkan semua perasaan yang terlibat didalamnya. Dengan segera kuhapus airmata yang tak kutahu sejak kapan mulai menggenangi pelupuk mataku.
“Din, dari tadi gue liatin lo, kok selalu ngelamun sih? Yah, meskipun bukan hari ini aja tapi hari ini lo paling sering ngelamun. Apa hari ini Hari Ngelamun Sedunia?” lanjut Artika, sahabat terbaikku.
Mendengar kelakarnya mau tidak mau aku pun tersenyum, dia memang orang yang bisa membuatku terhibur di tengah masalah yang menghimpitku, Artika, adalah sosok sahabat yang sejati.
“Bukannya hari ini seharusnya lo seneng? Eza yang selama ini lo impi-impiin jadi pacar lo, pangeran berkuda putih yang akan membebaskan putrinya dari siksaan penyihir yang jahat, tadi pagi baru saja mengumandangkan cintanya kepada putri Andini Prasetya,” ceplosnya dengan semangat yang berapi-api.
“HALLOO….APA ADA ORANG? Ya, ampun…Apa yang di depan gue ini putri yang udah dikutuk jadi batu kali, ya? Gue ngomong dianggurin. Halo?? Andini Prasetya? “
“Eh, iya…iya…gue seneng kok seneng banget malah,“ jawabku singkat namun masih dengan ekspresi datar.
“Seneng?! Ekspresi kaya gini lo bilang seneng?” balasnya sambil menghadapkan wajahku ke cermin kecil yang menjadi pasangan jiwanya, karena selalu menemaninya kemanapun dia pergi.
“Sebenarnya ada masalah apa sih, Din? Lo ngga mau cerita sama gue? Beberapa hari ini lo ngga nyadar apa? Gue juga ikut tersiksa dengan keadaan sobat gue yang sangat amat aneh kaya sekarang ini. Selalu ngelamun, pandangan kosong, bahkan sekarang ini lo jarang banget ngomong. Lo mau nyimpen semua ini sendiri? Ga pa-pa sih, tapi sampai kapan?” nada yang tadinya mengandung semangat juang empat lima seketika berubah seperti seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anaknya.
Diam, bagiku adalah jawaban terbaik sekarang ini, aku tak mau menyeret Artika ke dalam masalahku. Aku tak mau dia merasa iba dan kasihan padaku apalagi merasa sedih. Namun mungkin bagi Artika ini hal yang paling mengecewakan, ketika seorang sahabat menutup diri dari dirinya dan sibuk memikirkan masalahnya sendiri dan seolah tidak menganggapnya ada.
Setelah beberapa waktu, Artika pun menyerah dan beranjak dari sampingku hendak meninggalkanku sendiri dan memberikan peluang bagi gelombang permasalahan kembali bertahta di kepalaku.
“Tik…” kuraih tangan Artika yang ingin pergi.
“Maafin, gue selama ini gue ngga mau cerita sama lo tentang masalah gue bukan karena gue ngga nganggep lo sebagai sahabat gue tapi gue takut lo bakalan merasa sedih sama kaya gue dan malahan iba sama gue…..”
Artika kembali duduk di sampingku dengan wajah ingin tahu namun menenangkan. Kupandangi wajahnya dengan sisa keberanian yang kupunya, kuceritakan semua yang terjadi padaku, Mama, dan kedatangan Papa tadi malam.
“Terus? Setelah lo tanya pembantu lo, mereka bilang Bokap lo ga nginep, gitu? Bahkan ga ada yang tahu kalo bokap lo malem-malem langsung pergi?” selidik Tika.
Kuanggukan kepalaku sebagai tanda setuju. Sungguh, aku tak kuat lagi kalau harus mengeluarkan semuanya sekali lagi.
“Segitu parahnya, ya? Sampai Bokap lo ga mau orang rumah lo pada tahu terutama Nyokap lo?” lanjutnya seraya menepuk-nepuk bahuku.
“Sabar, ya…Tapi kalo menurut gue lo harus ngomong sama Nyokap lo biar masalahnya ngga berlarut-larut dan situasinya jadi bener-bener ngga enak. Lo harus yakinin dia kalo lo bukan lagi anak kecil yang ngga berhak tahu apa-apa. Biar bagaimanapun ini telah menjadi masalah lo juga, karena lo juga bagian dari keluarga Nyokap dan Bokap lo,” tandasnya dengan nada menasihati. Dan sekali lagi kujawab dengan sebuah anggukan.
* * *
Setibanya di rumah, kuletakkan tas dan segera berganti baju. Niatku sudah bulat untuk melaksanakan nasihat dari Artika, aku memang sudah cukup dewasa untuk diperlakukan seperti anak kecil.
Kusantap makan siang sambil menonton televisi, suapan demi suapan berhasil meluncur ke perutku yang memang sedang kosong. Tak tahu kenapa hari ini acara televisi sangat membosankan lagi-lagi acara infotainment yang menyajikan berita para artis dengan sejuta sensasi, kutukar satu per satu channel untuk melihat acara yang mungkin lebih menarik dan pilihanku adalah acara berita yang dahulu sangat disukai Papa sebelum masalah merundung keluarga kami.
“Berita selanjutnya, ditemukan sesosok mayat di daerah sekitar kali Ciliwung. Diduga pria malang ini adalah korban dari perampokan karena ditemukan dalam keadaan luka-luka di sekitar tubuhnya yang diperkirakan korban mengadakan perlawanan ketika kejadian,” sambut si pembawa acara. Layar televisiku langsung dipenuhi oleh gambar pria malang tersebut yang kabarnya selama seminggu lebih terbawa air kali Ciliwung.
Kuperhatikan sosok mayat yang telah membusuk dan membekak karena air. Kemeja lengan pendek berwarna biru berselang garis putih, celana hitam panjang dan ikat pinggang yang sudah lusuh masih mengikat kuat di celananya. Entah mengapa, aku semakin penasaran dengan sosok tersebut mungkinkan itu…..PAPA???
Benar, tampilan Papa malam itu sama seperti yang dikenakan mayat itu dan yang lebih meyakinkanku kalau sosok itu adalah Papa karena ada tato AA di pergelangan tangannya yang mengisyaratkan Andira Arjuna nama Mama dan Papa.
“Sekarang mayat tersebut telah dibawa ke RSCM guna penyelidikan lebih lanjut.”
Tanpa peduli makanan yang ada di hadapanku, aku langsung berlari ke kamar kusambar tas dan dompetku, buru-buru berlari keluar, lari dan terus berlari yang kutahu sekarang aku harus segera ke RSCM, aku harus melihat Papa, aku….
TIN…TIN…TIN…TIN….suara motor yang dari tadi meraung di belakang tak kupedulikan air mata yang semakin deras mulai mengaburkan pandanganku.
“Din!! Dini..” teriakan dari pengendara motor dibelakang memaksaku untuk menoleh.
“Din, ada apa? Kamu mau kemana sini aku anter?” lanjut si pengendara motor yang lantas membuka penutup helmnya, Eza. Ternyata motor yang dari tadi sibuk mengklaksoniku adalah Eza, yang kini telah menjadi pacarku bukan lagi cowo yang selama ini hanya dapat kukagumi dari jauh dan menjadi teman di setiap mimpiku.
“Aku, aku mau ke RSCM,” jawabku tergesa-gesa.
“Ya, udah naik…” katanya seraya menyodorkan helm.
Semuanya berjalan begitu lambat, aku ingin segera bertemu dengan sosok yang membuatku begitu risau, sosok yang selama ini mengerti aku, sosok yang menjadi teman sejati, sosok yang begitu memanjakanku…PAPA. Kupererat pelukanku pada Eza kuharap dia tidak keberatan karena sekarang aku sangat butuh sandaran. Sejurus kemudian aku dan Eza telah sampai di RSCM, kutinggalkan Eza yang sedang memarkirkan motornya, kuberlari sekuat tenaga menyusuri lorong RSCM yang kupikirkan hanya satu hal yaitu aku harus menemukan Papa.
“Mba..Korban perampokan yang baru saja di bawa kesini dimana, Mba?” tanyaku pada seorang suster yang duduk di belakang kursi resepsionis.
“Oh, di kamar mayat. Dari sini lurus aja, mentok belok kiri.”
Kuucapkan terima kasih seraya berlari, tak berapa lama kemudian aku sudah sampai di sana, kamar mayat, dengan langkah gontai kutelusuri jalan menuju ruangan itu. Masih seperti mimpi bagiku yang kuharap bila ini mimpi segera bangunkan aku. Airmataku mengalir semakin deras, aku tak ingin percaya bahwa di dalam sana ada orang yang sangat berarti bagiku, orang yang begitu mengerti aku, orang yang selama ini selalu ada bagiku, orang yang selalu membelaku manakala Mama menghukumku, orang yang menjadi sandaranku selama ini...PAPA, membujur kaku tak bernyawa. Saat ini aku sudah tak sanggup lagi melangkah serasa ada satu ton batu yang diikatkan ke kakiku namun tiba-tiba ada yang menggandeng tanganku dan seperti menguatkanku, mengisi kembali tenaga yang terkuras, kutengok dengan tenaga yang masih tersisa, Eza sudah disampingku sambil tersenyum dan mempererat genggaman tangannya. Kubuka pintu kamar yang tidak dikunci itu dengan tangan yang bebas dan perlahan terbuka. Yang pertama kali kulihat adalah Mama yang sedang berlari keluar sambil menangis, ya… Mama menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang kehilangan barang kesayangannya memaksaku mendekatinya dan memeluknya. Kami berdua pun menangis bersama karena rasanya ada sesuatu yang ingin keluar dan tak lagi dapat kami bendung. Sekarang kami benar-benar berdua, tak ada lagi sosok Papa. Kuharus dapat menerima semuanya, mungkin ini yang Papa bilang keadaan yang semakin menyulitkan namun aku juga harus tegar dan kuat seperti pesannya.
* * *
Pa, aku akan kuat, Pa…Seperti yang Papa bilang. Papa juga akan terus ada didekat aku, kan? Ya kan, Pa? Papa...Aku ngga akan bisa melupakan Papa walaupun aku tahu kenapa Mama dan Papa ribut, walaupun Papa sudah tidak setia pada Mama. Tapi aku akan setia, Pa. Aku akan setia menjaga Mama dan aku akan selalu sayang sama Papa sampai kapan pun karena bagiku Papa tak tergantikan.
Rabu, 21 Oktober 2009
DB2
DB2 adalah salah satu famili atau kerabat dari Relational Dataase Management System (RDMS) yang merupakan poruk software dalam IBM dimana mereka terdapat dalam satu line yang sama yaitu Information Management Software. Meskipun mereka berbeda edisi dan versi dari DB2, namun dapat dijalankan pada device yang sama atau satu mainframe yang sama. Kebanyakan DB2 selalu mengacu pada DB2 Enterprise Server Edition yang bisa dijalnkan pada system operasi Unix (AIX), Windows, Linux dan Z/OS server. Kekuatan DB2 juga berbeda dengan edisi IBM InfoSphere Warehouse.
a. Edisi DB2
DB2 untuk Z/OS (sebagai system operasi) merupakan tampilan produk tradisional yang tersedia di pasar atau pada Valu Unit Edition dimana konsumen atau penggunanya dapat membayar online dalam satu One-Time Charge.
DB2 untuk Linux, Unix dan Windows memiliki tiga edisi bagian yang terpisah yaitu Express Edition, Workgroup Server Edition dan Enterprise Server Edition.. Di setiap edisinya memiliki perbedaan grup dan feature untuk masing-masing ukuran workload.
Ada juga DB2 Express-C yang tidak mengenakan biaya atau donasi. Edisi ini disebut juga edisi Free atau gratis yang diperuntukkan bagi penggunaan database Oracle dan Microsoft SQL Server, kecuali apabila DB2 Express-C memiliki limit jumlah pengguna atau ukuran database. DB2 Express-C dapat digunakan pada Windows, Linux, Solaris, dan mesin Mac OS X dari berbagai ukuran tetapi perlengkapan yang akan digunakan hanya 2 CPU dan RAM yang berkapasitas 2 gigabyte. Didukung dengan penerimaan yang free atau gratis dan forum Web publik. IBM menawarkan penyatuan dengan telepon yang mendukung subskrisi dimana memperbolehkan pengguna untuk menggunakannya pada 4 CPU dan RAM yang berkapasitas 4 gigabyte.
DB2 untuk I (basic DB2/400) adalah reinkarnasi dari edisi ketiga dari DB2 yang sangat dekat dan dapat langsung dijumpai pada system operasi pada mesin IBM System I.
DB2 juga merupakan kekuatan IBM InfoShere Warehouse dimana menawarkan kapasitas data Warehouse. InfoSphere Warehouse menawarkan beberapa perbedaan edisi yang tersedia bagi z/OS, Linux, Unix, dan Winndows.
b. Informasi Teknik
DB2 dapat diadministrasikan dari masing-masing command line atau dari GUI. Command Line interface menyediakan berbagai informasi mengenai produk yang dpat dengan mudah dimengerti dan di automatisasi. GUI adalah multiplatform Java klien yang mengandung variasi wizard yang cocok untuk pemula. DB2 didukung juga dengan SQL dan XQuery. DB2 memiliki implementasi langsung terhadap penyimpanan data XML dimana data XML adalah XML yang bukan merupakan data relasi atau CLOB data untuk akses tercepat menggunakan XQuery.
a. Edisi DB2
DB2 untuk Z/OS (sebagai system operasi) merupakan tampilan produk tradisional yang tersedia di pasar atau pada Valu Unit Edition dimana konsumen atau penggunanya dapat membayar online dalam satu One-Time Charge.
DB2 untuk Linux, Unix dan Windows memiliki tiga edisi bagian yang terpisah yaitu Express Edition, Workgroup Server Edition dan Enterprise Server Edition.. Di setiap edisinya memiliki perbedaan grup dan feature untuk masing-masing ukuran workload.
Ada juga DB2 Express-C yang tidak mengenakan biaya atau donasi. Edisi ini disebut juga edisi Free atau gratis yang diperuntukkan bagi penggunaan database Oracle dan Microsoft SQL Server, kecuali apabila DB2 Express-C memiliki limit jumlah pengguna atau ukuran database. DB2 Express-C dapat digunakan pada Windows, Linux, Solaris, dan mesin Mac OS X dari berbagai ukuran tetapi perlengkapan yang akan digunakan hanya 2 CPU dan RAM yang berkapasitas 2 gigabyte. Didukung dengan penerimaan yang free atau gratis dan forum Web publik. IBM menawarkan penyatuan dengan telepon yang mendukung subskrisi dimana memperbolehkan pengguna untuk menggunakannya pada 4 CPU dan RAM yang berkapasitas 4 gigabyte.
DB2 untuk I (basic DB2/400) adalah reinkarnasi dari edisi ketiga dari DB2 yang sangat dekat dan dapat langsung dijumpai pada system operasi pada mesin IBM System I.
DB2 juga merupakan kekuatan IBM InfoShere Warehouse dimana menawarkan kapasitas data Warehouse. InfoSphere Warehouse menawarkan beberapa perbedaan edisi yang tersedia bagi z/OS, Linux, Unix, dan Winndows.
b. Informasi Teknik
DB2 dapat diadministrasikan dari masing-masing command line atau dari GUI. Command Line interface menyediakan berbagai informasi mengenai produk yang dpat dengan mudah dimengerti dan di automatisasi. GUI adalah multiplatform Java klien yang mengandung variasi wizard yang cocok untuk pemula. DB2 didukung juga dengan SQL dan XQuery. DB2 memiliki implementasi langsung terhadap penyimpanan data XML dimana data XML adalah XML yang bukan merupakan data relasi atau CLOB data untuk akses tercepat menggunakan XQuery.
Langganan:
Postingan (Atom)